Liverpool Fc

Kamis, 31 Mei 2012

Masalah Pokok Perekonomian Indonesia


Pengangguran
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Jenis dan macam pengangguran
Berdasarkan jam kerja
·         Berdasarkan jam kerja, pengangguran dikelompokkan menjadi 3 macam:

a.      Pengangguran Terselubung
b.      Setengah Menganggur (Under Unemployment)
c.       Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)
d.      Berdasarkan penyebab terjadinya
·         Berdasarkan penyebab terjadinya, pengangguran dikelompokkan menjadi 7 macam:
Pengangguran friksional (frictional unemployment)
Pengangguran konjungtural (cycle unemployment)
Pengangguran struktural (structural unemployment)
Pengangguran musiman (seasonal Unemployment)
Pengangguran siklikal
Pengangguran teknologi
Pengangguran siklus
Penyebab Pengangguran

Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya.
Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik, keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara.
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang.
Akibat pengangguran

·         Bagi perekonomian negara
a.      Penurunan pendapatan perkapita.
b.      Penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak.
c.       Meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.
·         Bagi masyarakat
a.      Pengangguran merupakan beban psikologis dan psikis.
b.      Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan, karena tidak digunakan apabila tidak bekerja.
c.       Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik.

Inflasi
Inflasi adalah suatu peristiwa ekonomi ketika harga barang barang umum naik secara bersamaan dan terus menerus. Inflasi juga menunjukan gejala menurunnya nilai uang rupiah terhadap barang dan jasa.
Menurut penyebabnya, jenis jenis inflasi dapat dibedakan menjadi ;
1)      Inflasi tarikan permintaan ( demand full inflation )
2)      Inflasi dorongan biaya ( cost push inflation )
3)      Inflasi campuran ( mixed inflation )

Dampak inflasi
ü  Meningkatkan kesenjangan ekonomi
ü  Mengurangi daya saing barang export karena harganya mahal
ü  Meningkatkan kegiatan spekulatif
ü  Menurunkan daya beli masyarakat
ü  Menimbulkan ketidakpastian ekonomi
ü  Mengurangi tingkat investasi

Masalah Pengangguran dan Inflasi
Ada empat faktor yang menentukan tingkat inflasi. Pertama, uang yang beredar baik uang tunai maupun giro. Kedua, perbandingan antara sektor moneter dan fisik barang yang tersedia. Ketiga, tingkat suku bunga bank juga ikut mempengaruhi laju inflasi. Suku bunga di Indonesia termasuk lebih tinggi dibandingkan negara di kawasan Asia. Keempat, tingkat inflasi ditentukan faktor fisik prasarana. Melonjaknya inflasipun karena dipicu oleh kebijakan pemerintah yang menarik subisidi sehingga harga listrik dan BBM meningkat. Kenaikan BBM tersebut cukup memberatkan masyarakat lapisan bawah karena dapat menimbulkan multiplier effect, mendorong kenaikan harga jenis barang lainnya yang dalam proses produksi maupun distribusinya menggunakan BBM.

Tingginya angka inflasi selanjutnya akan menurunkan daya beli masyarakat. Untuk bisa bertahan pada tingkat daya beli seperti sebelumnya, para pekerja harus mendapatkan gaji paling tidak sebesar tingkat inflasi. Kalau tidak, rakyat tidak lagi mampu membeli barang-barang yang diproduksi. Jika barang-barang yang diproduksi tidak ada yang membeli maka akan banyak perusahaan yang berkurang keuntungannya. Jika keuntungan perusahaan berkurang maka perusahaan akan berusaha untuk mereduksi cost sebagai konsekuensi atas berkurangnya keuntungan perusahaan. Hal inilah yang akan mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah pekerja/buruhnya dengan mem-PHK para buruh. Salah satu dari jalan keluar dari krisis ini adalah menstabilkan rupiah. Membaiknya nilai tukar rupiah tidak hanya tergantung kepada money suplly dari IMF, tetapi juga investor asing (global investment society) mengalirkan modalnya masuk ke Indonesia (capital inflow). Karena hal inilah maka pengendalian laju inflasi adalah penting dalam rangka mengendalikan angka pengangguran.
Sumber :
Buku detik detik ujian nasional ekonomi


kebijakan pemerintah

Kebijakan pemerintah
·         Pada periode 1966-1969
Pemerintah lebih memusatkan perhatian pada kebijakan mengenai proses perbaikan dan penghapusan semua unsur dari peninggalan pemerintahan orde lama yang mengandung unsur komunisme. Pada masa ini pemerintah berjuang untuk menekan tingkat inflasi yang tinggi karena pemerintahan orde lama.

·         Pada periode pelita I
 Perekonomiaan Indonesia sedang kurang baik, dimana Indonesia sedang mengalami tinggkat pengangguran yang tinggi. Sementara itu pemerintah menyempurnakan peraturan mengenai Tata Niaga bidang Eksport dan Import yang mendevaluasi mata uang rupiah terhadap dollar. Keadaan ini megakibatkan perekomonian kekurangan dana semetara itu perekonomian didesak untuk mendapatkan dana yang besar untuk investasi agar menambah lapangan pekerjaan.

·         Periode Pelita III
 Pemerintah membuat kkebijakan mengenai tata cara pelaksanaan eksport import dan lalu lintas devisa. Peraturan ini membuat kemudahan dalam pajak terhadap komodoti eksport dan menerapkan sistem devaluasi yaitu menurunkan nilai rupih terhadap dollar misalnya satu dollar seharusnya 7500 menjadi 9500, pemerintah melakukkan itu semua dengan harapan permintaan negara menjadi lebih banyak karena eksport meningkat dan nilai imortmenjadi lebih mahal karena nilai rupiah terhadap dollar melemah.




·         Pada Periode Pelita IV
Pemerintah menerapkan beberapa kebijakan diantaranya :
1.       kebijakan dalam meningkatkan eksport import non migas hal tersebut diatur dalam kebijakan INPRES No. 4 Tahun 1985.

2.       Kebijakan dalam meningkatkan sektor swasta bidang eksport dan bidang penanaman modal yang diatur dalam PAKEM 6 mei 1986.

3.       Kebijakan Devaluasi 1986 karena harga minyak dunia jatuh sehingga penerimaan pemerintah menurun, untuk meningkatkan penerimaan kembali pemerintah menerapkan sistem devaluasi mata uang rupiah terhadap dollar asing.

4.       Kebijakan 25 oktober 1986 pemerintah membuat Kebijakan mengenai Deregulasi perdagangan, moneter, dan penanaman modal dimana bea masuk untuk komoditi bahan baku dan penolong diturunkan dari tarif normal, serta penerapan kebijaksanaan penanaman modal.

5.       Kebijakan 15 Januari 1987 pemerintah membuat Kebijakan mengenai peningkatan efisiensi, inovasi dan produktivitas eksport pada sektor industri non migas.

6.       Kebijakan 24 Desember 1987 (PAKDES) dimana pemerintah melakukan penataan ulang struktur bidang perekonomian.

7.       Kebijakan 27 Oktober 1988 pemerintah membuat kebijakan deregulasi untuk meningkat dana yang dikumpulkan pasar modal untuk pembangunan.

8.       Kebijakan 21 November 1988 (PAKNOV), Pemerintah melakukan deregulasi dan debirokratisasi di bidang perdagangan dan hubungan Laut.

9.       Kebijaksanaan 20 Desember 1988 (PAKDES), memberikan keleluasaan bagi pasar modal dan perangkatnya untuk melakukan aktivitas yang lebih produktif.

·         Pada Periode Pelita V
 Pemerintah lebih memfokuskan kepada pengawasan, pengendalian, dalam rangka menuju rencana pembangunan jangka panjang tahap kedua.

B. Kebijakan Moneter

Pemerintah melakukan beberapa kebijakan dalam bidang moneter melalui pengaturan tingkat suku bunga dan peredaran uang. Pemerintah melakukan kebijakan ini dengan melakukan kerja sama dengan lembaga keuangan yaitu Bank Indonesia.
Kebijakan moneter yang diberlakukan oleh pemerintah memiliki tujuan antara lain :
ü  Mempertahankan stabilitas ekonomi
ü  Memoertahankan stabilitas harga
ü  Meningkatkan kesempatan kerja
ü  Dan memperbaiki neraca pembayaran
Macam macam kebijakan moneter :
ü  Operasi pasar terbuka
ü  Politik diskonto
ü  Politik cadangan kas
ü  Kredit selektif
ü  Imbauan moral
ü  Devaluasi
ü  Revaluasi

c. kebijakan fiscal
cara untuk mengatasi nya adalah sebagai berikut :
1.        Mengurangi pengeluaran Negara
2.       Manaikan atau mengefektifkan tariff pajak
3.       Menghemat pengeluaran Negara
4.       Mengadakan pinjaman pemerintah

d. kebijakan fiscal dan moneter luar negeri
Kebijakan sektor luar negeri berhubungan dengan pengaturan pemerintah terhadap bea cukai import dan eksport, Relasi dengan negara lain. Seperti pendapatan yang diperoleh masyarakat luar negeri dari indonesia demikian sebaliknya.



Sumber:
buku detik detik ujian nasional ekonomi

Senin, 28 Mei 2012

Kita dan Cinta

cinta itu apa
cinta itu bagaimana
cinta itu apa yang dirasa
cinta itu bahagia atau derita?

cinta itu mudah
cinta itu bagai angin
cinta itu listrik
cinta itu embun

cinta itu indah
cinta itu duka
cinta itu sebuah masalah
tapi cinta itu adalah anugerah

bunuh aku, wahai cinta
tusuk aku dengan segala keindahanmu
cekik aku dengan segala kerinduanmu
sekap aku dengan segala kepedihanmu

aku dirimu dan cinta
kamu diriku dan cinta
cinta? kenapa ada cinta?
karena cinta adalah kita.

Senin, 07 Mei 2012

Peran Sektor Luar Negeri Pada Perekonomian Indonesia



A.     Perdagangan Antar Negara
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.
Beberapa alasan mengapa suatu Negara memerlukan Negara lain dalam kehidupan ekonominya adalah :
1.       Pertama, tidak semua kebuthan masyarakatnya dapat dipenuhi oleh komoditi yang dihasilkan di dalam negeri, sehingga untuk memnuhi kebuthan tersebut, harus dilakukan impor dari Negara yang memproduksinya.
2.       Karena terbatasnya konsumen, tidak semua hasil produksi dapat dipasarkan di dalam negeri, sehingga perlu dicari pasar luar di luar negeri
3.       Sebagai sarana untuk melakukan proses alih teknologi. Dengan membeli produk asing suatu Negara dapat mempelajari bagaimana produk tersebut dibuat dan dipasarkan, sehingga dalam jangka panjang dapat melakyukan produksi untuk barang yang sama.
4.       Secara ekonomis dan matematis perdagangan antar Negara dapat mendatangkan tambahan keuntungan dan efisiensi dari dilakukannya tindakan spesialisi produksi dari Negara-negara yang memilki keuntungan mutlak dan/ atau keuntungan berbanding.

Kebijaksanaan pelita :
Titik Berat Pelita I : Pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan untuk mengejar keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang pertanian, karena mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian.
Pelita II : Dilaksanakan pada tanggal 1 April 1974 hingga 31 Maret 1979. Sasaran utamanya adalah tersedianya pangan, sandang,perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat dan memperluas kesempatan kerja. Pelaksanaan Pelita II cukup berhasil pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 7% per tahun. Pada awal pemerintahan Orde Baru laju inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I laju inflasi turun menjadi 47%. Selanjutnya pada tahun keempat Pelita II, inflasi turun menjadi 9,5%.
Pelita III : Pelita III pembangunan masih berdasarkan pada Trilogi Pembangunan dengan penekanan lebih menonjol pada segi pemerataan yang dikenal dengan Delapan Jalur Pemerataan, yaitu:
• Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, khususnya sandang, pangan, dan perumahan.
• Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
• Pemerataan pembagian pendapatan
• Pemerataan kesempatan kerja
• Pemerataan kesempatan berusaha
• Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum perempuan
• Pemerataan penyebaran pembagunan di seluruh wilayah tanah air
• Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.
Pelita IV : Titik beratnya adalah sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri. Terjadi resesi pada awal tahun 1980 yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal sehingga kelangsungan pembangunan ekonomi dapat dipertahankan.
Pelita V : Titik beratnya pada sektor pertanian dan industri. Indonesia memiki kondisi ekonomi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8 % per tahun. Posisi perdagangan luar negeri memperlihatkan gambaran yang menggembirakan. Peningkatan ekspor lebih baik dibanding sebelumnya.
Pelita VI : Titik beratnya masih pada pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya. Sektor ekonomi dipandang sebagai penggerak utama pembangunan. Pada periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri yang mengganggu perekonomian menyebabkan rezim Orde Baru runtuh.
B.    Hambatan-hambatan perdagangan antar Negara
Meskipun setiap negara menyadari bahwa perdagangan negaranya dengan Negara lain harus terlaksana dengan baik, lancar, dan saling menguntungkan. Namun seringkali Negara-negara tersebut ,ebuat suatu kebijaksanaan da;am sektor perdagangan luar negeri yang justru menimbulkan hambatan dalam proses transaksi perdagangan luar negeri.
Namun demikian, dengan mulai dicetuskannya era perdagangan bebas, maka hambatan-hambatan yang selama ini cukup mengelisahkan akan dicoba untuk dikurangi dan juka mungkin dihapuskan. Adapun bentu-bentuk hambatan yang selama ini terjadi di antaranya :
a.    Hamabatan Tarif
Tarif adalah suatu nilai tertentu yang dibebankan kepada suatu komoditi luar negeri tertentu yang akan memasuki suatu Negara (komoditi import). Tariff sendiri ditentukan dengan jumlah yang berbeda untuk masing-masing komoditi impor. Secara garis besar bentuk penetapan tari ada dua jenis, yakni :
ö     Tarif Ad-volarem
Yakni tarif yang besar kecilnya ditetakan berdasarkan prosentase tertentu dari nilai komoditi yang diimpor. Misalnya jika tarif untuk komoditi impor komponen mobil adalah 50%, maka jika ada komponen mobil masuk seharga $1000 maka tarifnya adalah sebesar $ 500. Akibatnya harga komponen mobil tersebut sekarang menjadi $ 1500.
ö     Tarif spesifik
Yaitu tarif yang besar kecilnya didasarkan pada nilai yang tetap untuk setiap jumlah komoditi import tertentu. Sebagai contoh, setiap komoditi import seberat 1 ton akan dikenakan tariff senile $ 500. Jika kita bandingkan dengan jenis tariff yang pertama maka terdapat perbedaan yang menyolok, yakni besarnya tariff akan sam meskipin nilai komoditi yang diimpor tidak sama, karena 1 ton komoditi impor tersebut bisa saja nilainya diimpor tidak sama, karena 1 tono komoditi impor tersebut bisa saja nilainya $ 5000, yang jika digunakan tariff ad-volarem akan dikenai tariff sebesar $ 2500 (lebih besar dari tariff spesifiknya yang hanya $ 500). Ida dalam perekonomian Indonesia sendiri tarif masih menjadi salah satu sumber pendapatan Negara dan sebagai alat proteksi industry dalam negeri yang cukup ampuh, meskipun mulai dicoba untuk dikurangi serah dengan persiapan era perdagangan bebas yang segera akan berlaku di tahun 2000-an.
Adapun pengaruh dari adanya pengenaan tariff terhdapa komditi import adala sebagai berikut :
Þ    Tidak adanya tarif menjdaikan komditi impor yang masuk ke Indonesia menjadi bertambah banyak sehingga harganya turun (menjadi lebih murah), akibatnya masyarakat lebih menyukai produk tersebut. hal ini berakibat pada komditi dalam negeri dimana, sumbangan komoditi menjadi turun.
Þ    Kebijaksanaan tarif menjadikan keadaan pada kesimpulan pertama menjadi lebih baik, hal ini dibuktikan dengan naiknya produksi nasional yang dipergunakan menjadi lebih besar.
b.    Hambatan Quota
Quota termasuk jenis hambatan perdagangan luar negeri yang lazim dan sering diterapkan oleh suatu Negara untuk emmabatasi masukkan komoditi impor ke negaranya. Quota sendiri dapat diartikan sebagai tindakan pemerintah suatu Negara denvgan menentukan batas maksimal suatu komoditi impor yang boleh masuk ke Negara tersebut. seperti halnya tariff, tindakan quota ini tentu tidak akan menyenangkan bagi Negara pengekspornya. Indonesia sendiri pernah menhadapi kuota import yang diterapkan oleh system perkonomian Amerika.
c.    Hambatan Dumping
Meskipun karekteristiknya tidak seperti Tarif dan Quota, namun dumping sering menjadi suatu masalah bagi suatu Negara dalam proses perdagangan luar negerinya, seperti yang dialami baru-baru ini, dimana industry sepeda Indonesia dituduh melakukan politik dumping. Dumping sendiri diartikan sebagai suatu tindakan dalam menetapkan harga yang lebih murah di luar negeri disbanding harga di dalam negeri untuk produk yang sama.
d.    Hambatan embargo/sanksi ekonomi
Sejarah mebuktikan bahwa suatu negra yang karena tindakannya dianggap melanggar hak asasi manusia, melanggar wilayah kekuasaan suatu Negara, akan menerima/dikenakan sanksi ekonomi oleh Negara yang lain (PBB). Contoh yang masih hangat di teling adalah kasusu intervensi Irak, kasusu libia dan masih banyak lagi. Akibat dari hambatan yang terakhir ini biasanya lebih buruk dan meluas bagi masyarakat yang terkena sanksi ekonomi dari pada akibat yang ditimbulkan oleh hambatan-hambatan perdagangan lainnya.
C.    Sebab-sebab Pemrtintah menerapkan Hambatan Perdagangan
Banyak alasan yang mendorong pemerintah menrapkan kebijaksanaan hambatan perdagangan diantaranya adalah :
Tarif dan quota disamping untuk meningkatkan pendapatan Negara dari sektor luar negeri, dipergunakan untuk lebih menyeimbangakn keadaam maraca pembayaran yang masih deficit. Dengan dikenakannya tariff dan quota pengeluaran untuk membeli komditi impor menjadi berkurang sehingga dapat mengurangi pos pengeluaran dalam neraca pembayarn
Tarif dan quota diterapkan untuk melindungi industry dalam negeri yang masih dalam taraf berkembang, dari serangan komditi-komoditi asing yang telah lebih dahulu dewasa. Hal ini perlu dilakukan mengingat sering kali di Negara berkembang masih banyak industry yang masih belum dapat berproduksi secara efisien sehingga produk yang dihasilkan belum dapat bersaing dengan produk sejenis yang berasal dari luar negeri. Untuk itulah tariff datau quota diterapkan. Dapat juga kebijaksanaan ini diterapkan jika suatu Negara tidak memiliki persedaiaan devisa yang cukup untuk melakukan impor sehingga pemerintah harus menghemat desvisa tersebut.
Tarif dan quota juga diterapkan untuk mempertahankan tingkat kemakmuran yang telah dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat suatu Negara.
Adapaun damping jika terpaksa ditempuh digunakan memacu perkembangan ekspor lewat kenaikan permintaan dikarenakan harga yang murah tersebut.
Sedangkan sanksi ekonomi diterapkan lebih dikarenakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan HAM, politik, terorosme dan kemanan intersnasional. Bagi Negara yang terkena sanksi diharapkan dapat memperbaiki “sikap” dan “tindakannya” bagi kepentingan Negara lain dan bagi dunia.
D.   Neraca Pembayaran Luar Negeri Indonesia
Neraca pemabayarn luar negeri Indonesia juga merupakan suatu bentuk pelaporan yang sisitematis mengani segala transaksi ekonomi yang diakibatkan oleh adanya kebijaksanaan dan kegiatan ekonomi di sektor luar negeri. Dengan demikian dalam neraca ini juga terdapat pos yang merupakan arus dana masuk (umumnya ditandai dengan +) dan pos yang merupakan arus dana keluar (ditandai dengan -)
Namun demikian secara singkat pos-pos dalam neraca pembayaran luar negeri Indonesia tersebut dapat dikelompokkan pos-pos dalam neraca luar negeri Indonesia tersebut dapat dikelompokan ke dalam berikut ini :
ü  Neraca Perdagangan, yang merupakan kelompok transaksi-transaksi yang berkaitan dengan kegiatan ekspor dan impor barang, baik migas maupun non-migas.
ü  Neraca Jasa, merupakan kelompok transaski-transaksi yang berkaitan dengan kegiatan ekspor impor di bidang jasa.
ü  berjalan, merupakan hasil penggabungan antara neraca perdagangan dan neraca jasa. Jika lebih banyak pos arus kas masuknya (ekspor) maka nilai neraca berjalan ini akan surplus, begitu pula sebaliknya.
ü  Neraca lalu-lintas modal, merupakan kelompok pos-pos yang berkaitan dengan lalu-lintas modal pemerintah bersih (selisih anatar pinjaman dan pelunasan hutang pokok) dan lalu-lintas modal swasta bersih, berikut lalu-lintas modal bersih lainnya yang merupakan selisih penerimaan penanaman modal asing dengan pembayaran BUMN.
ü  Seslisi yang belum diperhitungkan
ü  Neraca lalu lintas moneter, yang merupakan kelompok pos-pos yang berkaitan dengan perubahan cadangan devisa
E.    Peran Kurs Valuta Asing Dalam Perkonomian Luar Negeri Indonesia
Kurs valuta asing seing diartikan sebagai banyaknya nilai mata uang suatu negara (Rupiah misalnya) yang harus dikorbankan/dikeluarkan untuk mendapatkan satu unit mata uang asing (Dollar misalnya). Sehingga dengan kata lain, jika kita gunakan contoh Rupiah dan Dollar, maka kurs valuta asing adalah nilai tukar yang menggambrakan banyaknya Rupiah yang harus dikeluarkan untuk mendapat satu unit Dollar dalam kurun waktu tertentu. Masalah kurs valuta asing mulai muncul ketika transaksi ekonomi sudah melibatkan dua negara (mata uang) atau lebih, tentunya sebagai alat untuk menjembatani perbedaan mata uang di masing-masing negara.
Depresiai adalah turunnya nilai tukar Rupiah terhadap mata u8ang asing (Dollar). Apresiasi adalah kebalikan dari depresiasinya rupiah. Dengan demikian jika Rupiah mengalami depresiasi (mengalami penurunan nilai) maka mata uang Dollar akan Apresiasi.
Spot Rate, adalah nilai tukar yang masa berlakunya hanya dalam waktu 2 x 24 jam saja. Sehingga jika sudah melewati batas waktu di atas maka nilai tukar tersebut sudah tidak berlaku lagi.
Sulit untuk mendapatkan informasi kapan pertama kali dan dengan nilai berapa dollar dihargai dengan mata uang rupiah. Lepas dari semua itu, perubahan kurs suatu mata uang terhadap mata uang lainnya secara prinsip hanya disebabkan karena adanya perubahan kekuatan permintaan dan penwaran terhadapa mata uang asing yang akan dipertukarkan, yang sebenarnya identik dengan kekuataan permintaan dan penawaran akan komoditi yang diperdagangkan.
Perubahan permintaan dan penawaran pada proses selanjutnya dapat mengakibatkan mata uang di dalam negeri (rupiah) mengalami penurunan nilai / Apresiasi, dan dapat juga mengalami kenaikan nilai / Depresiasi, kedua hal tersebut tergantung dari sebab-sebab perubahan permintaan-penawaran valuta asing tersebut. Adapun sebab-sebab perubahan tersebut diantaranya :
a.    Perubahan selera masyarakat terhadap komditi luar negeri
Semakin banyak masyarakat Indonesia menyukai dan membutuhkan barang luar negeri, maka kebutuhan  akan mata uang asing ($) akan semakin banyak pula untuk mendapatkan barang luar tersebut. karena permintaan semakin banyak, secara grafik, kurva permintaan akan dollar akan bergeser ke kanan dari keseimbangannya. Akabitnya nilai rupiah mengalami penurunan, atau semakin banyak rupiah yang harus dikorbankan untuk mendapatkan 1 unit $.
b.    Perubahan iklim investasi dan tingkat bunga
Perubahan iklim investasi yang semakin aman dan menarik (PP No. 22 1995 misalnya) dapat menyebabkan arus modal asing makin banyak yang masuk, yang berarti penawaran modal asing berupa dollar meningkat.peristiwa ini akan mengakibatkan kurva penawaran dari dollar akan bergeser ke kanan (naik).
c.    Perubahan tingkat inflasi
Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan komditi eksport kita kurang dapat bersaing di pasaran dunia, karena dengan adanya inflasi yang tinggi harga ekspor akan terasa lebih mahal. Akibatnya jarang yang mau membeli produk eksport. Hal ini identik dengan menurunnya penawaran dollar untuk membeli eksport tersebut.
d.    Iklim investasi
Prospek dan iklim investasi yang menarik (aman dan tingkat penghasilan yang tinggi) di Indonesia akan turut memppengaruhi banyak tidaknya penawaran dollar ke Indonesia. Semakin menarik maka nilai rupiah akan semakin tinggi (apresiasi).
Masih banyak faktor lain yang dapat menyebabkan rupiah depresiasi atau sebaliknya. Namun yang jelas kurs (nilai tukar) yang saat ini berlaku adalah sudah mencerminkan keseimbangan pasar, artinya kurs itulah yang menggambarkan kenyataan perekonomian suatu negara saat ini.

http://oeyyulia.blogspot.com/2011/04/peran-sektor-luar-negeri-pada.html
http://wikipedia.com/
http://syarif89.wordpress.com/2011/04/26/tugas-5/

Senin, 30 April 2012

waiting


I can't sleep, I'm feeling wide awake
Tonight is taking it's time
How much more before the morning breaks
And I can leave it all behind
'Cause every time I try to close my eyes
I only end up seeing memories of you
And it's never enough, I'm waiting

Even though you're gone I can hear your heart
It's calling out my name like a flash in the dark
If this is just a dream
I won't give it back
I'll find a way to make it last
One more minute, wait, wait, wait, don't go
Just one more minute, wait, wait, wait, don't go

I am keeping every word you say
But how much longer can I hold on
Cause whispers echoing until they fade
Remind me that you're already gone
'Cause every time I try to chase your voice
I end up getting lost and running in circles
And it's never enough, I'm waiting

Even though you're gone I can hear your heart
It's calling out my name like a flash in the dark
If this is just a dream
I won't give it back
I'll find a way to make it last
One more minute wait, wait, wait, don't go
Just one more minute, wait, wait, wait, don't go
Wait, wait, wait, don't go
Just one more minute, wait, wait, wait, don't go
Oooh yeah, don't go

Even though you're gone I can hear your heart
It's calling out my name like a flash in the dark
If this is just a dream
I won't give it back
I'll find a way to make it last
One more minute, wait, wait, wait, don't go
Just one more minute, wait, wait, wait, don't go





http://lirik.kapanlagi.com/artis/david_archuleta/wait

Sabtu, 07 April 2012

pendapatan perkapita


Nama Negara

300
340
330



2,990
3,350
3,860
4,010
4,000

3,120
3,630
4,260
4,420
4,460







35,620
36,980
41,130



1,910
2,650
3,430
3,890
3,960

11,390
12,610
13,030
11,760
10,610

5,160
6,030
7,160
7,540
8,450

1,920
2,580
3,340
3,040
3,090







34,300
37,140
41,890
43,740


39,260
42,180
46,250
46,420
46,710

1,890
2,710
3,830
4,840
5,180

19,970
20,670
21,400
20,410


19,660
22,750
25,420



450
470
520
580
640

11,480
11,800
12,380
13,500


3,490
4,350
5,550
5,680
6,030

38,780
41,350
45,090
45,290
45,420

3,650
3,560
3,740
3,800
3,740

570
610
700
750
750







1,360
1,660
1,780
1,880
1,920

1,110
1,230
1,480
1,630
1,790

3,330
3,790
4,530
4,750
4,790

5,710
6,060
6,570
6,400
6,890

4,800
6,110
7,480
8,090
9,390

27,050
30,130
33,030
31,180


4,080
4,530
5,700
6,080
6,240

420
430
480
510
550

110
120
140
150
160

520
590
660
690
760

970
1,040
1,140
1,190
1,160

36,830
40,270
43,430
41,950


2,310
2,550
2,840
3,070
3,160







350
380
410
440
460

450
490
540
600
600

6,870
8,140
9,490
9,300
9,940

2,050
2,490
3,050
3,650
4,260

3,440
4,060
4,640
5,050
5,510

670
690
750
810
820

130
140
150
160
180

1,270
1,470
1,980
2,080
2,310

5,040
5,530
6,060
6,260
6,580

840
880
980
1,060
1,070

10,850
12,180
13,720
13,800
13,760

4,550
5,020
5,550









22,880
24,130
27,460
30,460


12,890
14,380
17,140
17,400
17,870

52,250
54,700
58,620
58,300
58,980

1,050
1,110
1,210
1,280


4,340
4,500
4,790
4,910
4,960

3,370
4,030
4,330
4,530
4,860

2,960
3,170
3,720
4,210
4,510

1,290
1,500
1,800
2,110
2,340

2,970
3,200
3,460
3,370
3,360

6,870
9,710
14,480
16,440
14,680

260
260
250
300
340

11,430
13,160
14,410
14,080
14,360

190
220
280
340
380







3,600
3,800
4,070
3,830
3,610

41,100
44,160
48,110
46,680
47,170

36,740
38,960
42,080
42,610
42,390







5,490
6,480
7,520
7,640
7,760

280
320
400
440
440

1,680
2,090
2,460
2,540
2,690

37,400
39,450
42,680
42,430
43,330

590
800
1,150
1,190
1,240

23,480
25,370
27,810
28,760
27,240

30,830
34,060
30,010
26,150


5,220
5,480
5,870
5,580
5,560







2,220
2,430
2,640
2,660
2,740

310
320
340
370
380

390
410
460
510
540

1,390
1,920
2,690
3,010
3,270

410
550
610
660
650

1,480
1,630
1,780
1,800
1,880

29,520
31,220
32,950
31,410
32,900

10,830
11,500
13,010
13,080
12,990

52,400
58,430
46,950
39,650
33,870

850
1,000
1,080
1,220
1,340

1,420
1,660
2,010
2,230
2,580

2,960
3,540
4,120
4,530


1,120
1,420
2,060
2,200
2,320

45,570
48,590
49,940
44,540
40,990

43,710
49,300




21,130
22,610
24,700
25,780
27,340

32,190
33,600
35,360
35,120
35,090

4,210
4,400
4,880
4,720
4,750

38,590
37,760
38,000
37,520
42,150

2,750
3,100
3,660
3,970
4,350

3,860
4,970
6,140
6,840
7,440

570
660
730
760
780

1,820
1,830
1,960
1,830
2,010







18,950
21,200
21,580
19,830
19,890

2,460
2,670
3,000
3,180
3,300

37,300
43,920




500
620
770
870
880

510
590
730
890
1,000

8,120
10,100
12,020
12,390
11,620

5,670
6,200
6,990
7,710
9,020

950
980
1,080
1,110
1,080

120
150
170
190
190

8,200
10,220
12,380
12,020


104,080
111,690
118,970
136,540


8,410
9,980
11,910
11,620
11,400

67,760
78,470
82,210
76,880
79,510

25,060
35,360
38,590
39,520


3,100
3,380
4,180
4,540
4,520

300
340
410
430
440

230
250
280
310
330

5,720
6,420
7,270
7,340
7,900

3,010
3,270
3,700
3,860
4,270

410
470
520
570
600

15,320
16,660
18,460
18,350


3,250
3,240
3,130
3,050
2,990

670
810
980
1,000
1,060

5,530
6,050
6,890
7,320
7,740







8,740
9,430
10,050
9,050
9,330

2,500
2,490
2,480
2,610
2,700

1,030
1,160
1,500
1,570
1,810

145,290
173,310
200,610
197,460


1,110
1,390
1,790
1,790
1,890

4,260
5,150
6,440
6,640
6,690

2,120
2,230
2,520
2,760
2,850

310
340
380
440
440







3,890
4,100
4,260
4,260
4,650

320
350
400
440
490

43,390
46,310
49,000
48,380
49,720







25,630
27,480
27,320
29,050


930
990
1,040
1,040
1,080

270
290
330
340
360

830
960
1,170
1,190
1,180







68,360
76,190
84,850
84,590
85,380

12,230
14,290
17,890



790
860
940
1,000
1,050

7,960
8,250
6,690
6,220
6,460

4,950
5,560
6,240
6,560
6,990

720
940
1,090
1,180
1,300

1,400
1,650
2,130
2,250
2,940

2,920
3,340
4,010
4,240
4,710

1,310
1,510
1,770
1,860
2,050

8,340
9,800
11,870
12,190
12,420

18,650
19,920
21,520
21,830
21,860













4,870
6,430
8,290
8,320
7,840

5,820
7,590
9,630
9,290
9,910

310
360
440
490
540

2,410
2,570
2,930
2,840
2,930

43,530
46,570
50,670



840
920
1,010
1,110
1,200

14,270
15,570
17,710
17,200


810
870
980
1,040
1,050

3,800
4,450
5,520
5,930
5,820

10,740
11,860
10,680
9,340
9,490

250
280
320
340
340

31,800
34,980
36,050
36,880
40,920







12,470
14,260
16,590
16,120
16,220

19,580
21,510
24,210
23,780
23,860

960
1,020
1,050
960
1,030







5,480
5,770
5,860
5,730
6,100

27,470
29,390
31,810
32,030
31,650

1,350
1,540
1,780
1,990
2,290

9,380
9,800
11,210
9,770
9,980

5,360
5,390
5,430
5,130
4,970







4,440
4,930
5,140
5,120
4,850

760
930
1,140
1,230
1,270

3,740
4,450
5,310
5,920


2,360
2,540
2,560
2,350
2,600

45,680
48,900
52,420
48,570
49,930

58,300
57,020
56,780
65,380
70,350

1,580
1,800
2,120
2,440
2,640

390
460
600
720
780

390
410
460
500
530

2,860
3,240
3,680
3,780
4,210

950
1,490
2,460
2,020
2,220

340
330
380
420
440

2,730
2,910
3,270
3,350
3,380

12,930
14,810
16,880
15,920
15,380

3,040
3,210
3,540
3,860
4,070

7,150
8,090
8,890
8,700
9,500

1,850
2,210
2,760
3,180
3,700













340
370
420
460
490

1,950
2,570
3,210
2,840
3,010







41,060
44,050
45,600
41,060
38,540

46,240
46,840
47,660
46,330
47,140

5,440
6,510
8,020
8,970
10,590

600
730
890
1,090
1,280

2,010
2,180
2,550
2,620
2,760

6,090
7,500
9,160
10,070
11,590

690
780
910
1,000
1,100













770
850
960
1,060


620
750
970
990
1,070

410
400
320
370
460


Keterangan :
  • GNI per kapita (dahulu GNP per kapita) adalah pendapatan nasional bruto, dikonversi ke dolar AS dengan menggunakan metode Atlas Bank Dunia , dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.
  • GNI adalah jumlah dari nilai tambah oleh semua produsen di dalam negeri ditambah pajak produk (dikurangi subsidi ).
  • Negara Indonesia tercinta masih berada dibawah US$ 5000…